KAJIAN STILISTIKA PUISI
“BERJALAN
DI BELAKANG JENAZAH”
KARYA
SAPARDI DJOKO DAMONO
DENGAN
PENDEKATAN SEMIOTIK
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Stilistika
Pengampu:
Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum

Oleh:
SARASWATI
KARTIKASARI
A310
100 241
PENDIDIKAN
BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS
KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013
A.
PENDAHULUAN
Karya
sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. Karya sastra diciptakan
untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis
memiliki cara dalam mengemukakan gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan
efek-efek tertentu bagi pembacanya, Secara manyeluruh kajian stilistika
berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap bagaimana
nilai sebuah karya sastra.
Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang
menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya.
Aminuddin (1997: 67) mengemukakan terdapat jenis karya sastra yaitu puisi
dan prosa fiksi. Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra
mengakibatkan perbedaan dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan
penggambarannya.
Pada lingkupnya puisi diciptakan oleh
seseorang dengan melukiskan dan mengekspresikan watak-watak yang penting si pengarang,
bukan hanya menciptakan keindahan. Aminuddin (1997: 65) menyatakan dalam puisi
misalnya membutuhkan efek-efek emotif yang mempengaruhi karya sastra.
Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi,
penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Dengan kriteria
tersebut membantu dalam menganalisis sebuah puisi. Berdasarkan kriteria
tersebut dipilih puisi dengan judul “Berjalan di Belakang Jenazah” karya
Sapardi Djoko Darmono untuk dianalisis. Sapardi Djoko Darmono pula memiliki
pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan.
Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang
mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau konvensi dari masyarakat.
Bahasa yang digunakan di dalam puisi cenderung menyimpang dari kaidah
kebahasaan, bahkan menggunakan bahasa yang dianggap aneh atau khas.
Penyimpangan penggunaan bahasa dalam puisi, menurut Riffaterre (dalam
Supriyanto, 2009: 2) disebabkan oleh tiga hal yaitu displacing of meaning
(pengganitan arti), dan creating of meaning (perusakan atau penyimpangan arti),
dan creating of meaning (penciptaan arti). Dengan demikian keindahan puisi pada
dasarnya membentuk suatu pesan dan gaya bahasa tersendiri memberikan wujud
keindahan karya sastra.
Pendekatan semiotika ini akan menjelaskan tanda yang
terdapat di dalam puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” menjadikan puisi
tersebut memiliki makna yang utuh bagi seorang pembaca. Pendekatan Semiotika
adalah teori tentang memahami ‘tanda’.
Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi
yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Pradopo, 1995:119).
Puisi “Berjalan di
Belakang Jenazah” merupakan puisi yang menarik untuk dikaji. Puisi ini merupakan salah
satu karya Sapardi Djoko Darmono dalam kumpulan puisinya “Dukamu Abadi”. Saya
mengkaji puisi ini karena puisi ini menimbulkan rasa penasaran mengenai apa
makna yang sebenarnya terkandung dalam puisi ini dengan menggunakan teori
semiotik.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka
permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah: (1) Bagaimana style
‘gaya bahasa’ pada puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko
Darmono?; (2) Bagaimana analisis puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya
Sapardi Djoko Darmono dengan pendekatan semiotik?. Adapun tujuan tulisan ini
adalah untuk: (1) Mendiskripsikan style ‘gaya bahasa’ puisi “Berjalan di
Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono.; (2) Menganalisis puisi
“Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono dengan pendekatan semiotik.
Manfaat teoritis kajian ini adalah (1) hasil kajian
stilistika ini memberikan konstribusi bagi pengembangan linguistik terapan dan
studi sastra sekaligus dalam analisis karya satra; (2) meletakkan dasar-dasar
bagi penelitian stilistika karya sastra yang lain, baik puisi, fiksi, maupun
teks drama/lakon. Adapun manfaat praktis kajian ini adalah: (1) memberikan
wawasan bagi akademisi linguistic dan kritikus sastra dalam melakukan analisis
karya sastra; (2) memberikan alternatif bahan ajar bagi para pengajar bahasa
dan sastra baik di perguruan tinggi maupun sekolah dalam pembelajaran
stilistika.
B.
Kajian
Teoritis
1. Style
‘Gaya Bahasa’
Gaya
atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Gaya
bahasa atau style menjadi masalah
atau bagian dari diksi atau pilihan
kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa
tertentu untuk menghadapi situasi tertentu.
Bila
kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara
mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan
sebagainya. Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan
bahasa. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan
kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Akhirnya style atau gaya bahasa dapat dibatasi
sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang
memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf, 2005:
113).
2. Puisi
Puisi
sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam
aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya. Mengingat bahwa puisi
itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana
kepuitisan (Pradopo, 1987: 3).
Puisi
merupakan karya sastra yang dimana karya sastra itu bersifat imajinatif yang
banyak menggunakan makna kias dan makna lambang (majas). Pengkajian puisi yang
dilakukan untuk menafsirkan sebuah karya sastra nyatanya masih dipandang remeh
oleh sebagian kecil manusiawi, padahal bila kita memikirkan kembali bahwa tujuan
dilakukannya pengkajian puisi merupakan sebagai suatu upaya untuk mengenal
lebih jauh tentang makna yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Meskipun
demikian, orang tidak dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui
dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna dan mempunyai arti.
3. Teori Semiotik
Analisis
semiotika merupakan struktur sistem tanda yang memahami makna tanda-tanda yang
terjalin dalam sistem. Cara untuk menentukan unsur-unsur yang harus
diperhatikan dalam sebuah analis semiotik, bentuk hubungan antara unsur satu
dengan unsur lainnya, dan makna yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk hubungan
tersebut (Sunardi, 2002:46).
Menurut
Umberto Eco dalam (Berger, 2010: 4-5), semiotika berkaitan dengan segala hal
yang dapat dimaknai tanda-tanda. Suatu tanda adalah segala sesuatu yang dapat
dilekati (dimaknai) sebagai penggantian yang signifikan untuk sesuatu lainnya.
Segala sesuatu ini tidak terlalu mengharuskan perihal adanya atau
mengaktualisasikan perihal dimana dan kapan suatu tanda memaknainya. Jadi,
semiotika ada dalam semua kerangka (prinsip), semua disiplin studi, termasuk
dapat pula digunakan untuk menipu bila segala sesuatu tidak dapat dipakai untuk
menceritakan (mengatakan) segala sesuatu (semuanya).
C.
Metode
Penelitian
Karya sastra
merupakan sebuah struktur tanda yang bermakna. Dalam pengkajian ini, dilakukan
pengkajian stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yang meliputi gaya
bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Setelah pengkajian
stilistika dilanjutkan dengan pengungkapan makna stilistika puisi dengan
memanfaatkan teori semiotik.
Objek penelitian
ini adalah stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko
Damono yang akan dikaji dengan teori semiotik. Metode yang digunakan dalam
penelitian ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan dalam bentuk wacana
yang terkandung dalam teks puisi “Berjalan di Belakang Jenazah”.
D.
Hasil
dan Pembahasan
Pengkajian
stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yang dibagi dalam empat aspek
yakni gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Setelah itu
akan dikaji dengan pendekatan semiotik. Lebih dahulu dipaparkan puisi “Berjalan
di Belakang Jenazah” berikut ini.
Berjalan di Belakang Jenazah
berjalan di belakang jenazah angin
pun reda
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
jam mengerdip
tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia
di samping: pohon demi pohon
menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
di atas: matahari kita, matahari itu juga
jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya
1.
Gaya
Bunyi
Dalam
puisi, bunyi berperan penting karena bunyi menimbulkan efek dan kesan tertentu.
Bunyi dapat menekankan arti kata, mengintensifkan makna kata dan kalimat,
bahkan dapat mendukung penciptaan suasana tertentu dalam puitis. Gaya bunyi
pada puisi itu dapat dikemukakan sebagai berikut.
Puisi
itu secara keseluruhan didominasi oleh adaya bunyi vokal /a/. Misalnya pada
bait 2 baris pertama: /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/, pada
bait 2 baris kedua: /di atas: matahari kita, matahari itu juga/, pada bait 2
baris ketiga: /jam mengambang di antaranya/, dan pada bait 2 baris keempat:
/tak terduga begitu kosong waktu menghampirinya/. Bunyi vokal /a/ yang
mendominasi keseluruhan puisi itu mempunyai fungsi menimbulkan suasana sedih
dan duka.
2.
Gaya
Kata (Diksi)
Secara
umum puisi juga sulit untuk dipahami, terdapat penafsiran tertentu. Dengan
demikian penggunaan kata konotatif dalam puisi tersebut cukup menjadi
perhatian. Penyair menggunakan kata-kata tersebut untuk mengungkapkan sesuatu.
Sesuatu itulah yang dinamakan makna konotatif. Jadi, penggunaan kata konotatif
dilakukan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Penggunaan kata
konotatif juga untuk menciptakan efek estetis.
Secara
keseluruhan dalam puisi “Berjalan di Belakang jenazah” penyair memanfaatkan
kata-kata konotatif yang memiliki arti kias. Bahasa kias tampak dominan dalam
puisi itu terutama pemanfaatan majas personifikasi. Hal itu dapat terlihat pada
bait 1 baris keempat /siang menepi, melapangkan jalan
dunia/, pada bait 2 baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/, dan bait 2
baris keempat /tak terduga begitu kosong waktu
menghirupnya/.
3. Gaya
Kalimat
Kepadatan
kalimat dan bentuk yang ekspresif sangat diperlukan dalam karya sastra
khususnya puisi. Hal itu mengingat bahwa dalam puisi hanya inti gagasan atau
pengalaman batin yang dikemukakan. Gaya kalimat yang terdapat dalam puisi itu
menggunakan gaya kalimat implisit.
Kepadatan
kalimat dengan gaya implisit terdapat pada bait 1 baris pertama /berjalan di belakang jenazah angin
pun reda/. Pada baris pertama bait 1 terdapat kata yang
diimplisitkan yakni kata (saat)/ berjalan di belakang jenazah angin pun reda/. Pada bait
1 baris keempat /siang menepi, melapangkan jalan dunia/ terdapat kata yang diimplisitkan
yakni kata /siang (aku) menepi, melapangkan jalan dunia/.
Kepadatan kalimat dengan gaya implisit juga terdapat
pada bait 2 baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/ kata yang
diimplisitkan yakni kata /di samping (kuburan): pohon demi pohon (aku) menundukkan kepala/. Pada bait
2 baris kedua /di atas: matahari kita, matahari itu juga/ kata yang
diimplisitkan yakni kata / di atas: matahari kita (aku dan
kamu),
matahari itu juga/.
Dari kajian gaya kalimat di atas dapat dikemukakan
bahwa dalam puisi karya Sapardi Djoko Darmono tersebut terlihat kalimat-kalimat
mengalami pemadatan dengan gaya implisit. Pemadatan kalimat dengan gaya
implisit itu tidak mengganggu hubungan antar kalimat melainkan justru menambah
efektivitas kalimat dan menimbulkan efek makna khusus sekaligus mampu mencapai
efek estetis.
4. Citraan
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk
menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat
membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Dalam puisi “Berjalan di
Belakang Jenazah” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca
melalui ungkapan yang tidak langsung. Di sinilah citraan dalam karya sastra
berfungsi menghidupkan imaji-imaji yang ada dalam pikiran pembaca, yang
dipaparkan sebagai berikut.
a)
Imaji
Lihatan
imaji
yang secara kasat mata dapat dapat dilihat oleh indrawi mata manusia. Pada
puisi ini imaji lihatan terdapat pada bait 1 baris pertama /berjalan di
belakang jenazah angin pun reda/, pada bait 1 baris kedua /jam mengerdip/, dan pada bait 2
baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/.
b)
Imaji
Cecapan
Imaji
yang diperoleh dari alat ucap manusia. Pada puisi ini imaji cecapan terdapat
pada bait 1 baris ketiga /tak terduga betapa lekas/.
c)
Imaji
rabaan
secara
abtrak dapat dirasakan oleh tubuh manusia. Pada puisi ini imaji rabaan terdapat
pada bait 2 baris ketiga /jam mengambang di antaranya/.
Jadi, kesimpulannya dari puisi
“Berjalan di Belakang Jenazah” adalah memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji
pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Citraan membantu
pembaca dalam menghayati makna puisi. Puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” memanfaatkan citraan penglihatan, cecapan, dan citraan rabaan.
E. Kajian Makna Stilistika Puisi
“Berjalan di Belakang Jenazah” dengan Pendekatan Semiotik
Makna karya sastra merupakan
formulasi gagasan-gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca.
Mengacu teori semiotik, karya sastra merupakan system konunikasi tanda. Oleh
karena itu, apapun yang tercantum dalam karya satra merupakan tanda yang
mengandung makna yang implisit di balik ekspresi bahasa eksplisit (Al-Ma’ruf,
2012: 161).
Pada analisis pendekatan semiotik
pada puisi Sapardi Djoko Damono ditemukan beberapa simbol, yaitu:
a.
Pada bait pertama dalam puisi ini, yaitu
/tak terduga betapa lekas/, /siang menepi, melapangkan jalan
dunia/. Disini dimaksudkan bahwa
waktu hidup manusia di dunia hanyalah sementara dan tidak kekal.
b.
Pada bait kedua /jam mengambang di
antaranya/, /tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya/. /jam
mengambang di antaranya/ disini diibaratkan sebagai umur manusia yang terus
berjalan tidak dapat terduga kapan habisnya (mati).
F.
Simpulan
Stilistika adalah ilmu gaya bahasa yang digunakan untuk
mengkaji suatu makna dalam sebuah karya sastra, dengan adanya stilistika kita
bisa lebih memahami makna yang sesungguhnya yang terdapat dalam sebuah puisi
secara mendetail, mulai dari struktur bahasa, penggunaan kata hingga mengamati
antar hubungan pilihan kata. Adapun
ruang lingkup stilistika, yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam
stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya
intonasi, gaya kata, gaya bunyi, dan gaya kalimat.
Dari analisis
yang dilakukan dalam
puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Berjalan di Belakang Jenazah
”, didapatkan sebuah pemilihan potensi bahasa teks sastra, yang terdapat adanya
tanda atau lambang yang digunakan dalam bahasa sehari-hari. Amanat yang
tersampaikan dalam puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yaitu dalam hidup ini kematian tidak akan
dapat kita rasakan waktunya. Begitu cepat dan tanpa kita duga.
DAFTAR
PUSTAKA
Al-Ma’ruf,
Ali Imron. 2012. Stilistika: Teori,
Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books
Solo
Aminnuddin. 1997. Stilistika,
Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer.
Yogyakarta: Tiara Wacana.
Damono, Sapardi Djoko. 2011. “Kumpulan Puisi Dukamu
Abadi” (online), (http://vidictians.blogspot.com/p/sapardi-djoko-damono_damono_3500.html,
diakses tanggal 11 April 2013).
Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia
Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta:
Pustaka Pelajar.
__________. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press.
Sunardi. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.
Supriyanto, Teguh. 2009. Stilistika dalam Prosa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan
Nasional.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar