Selasa, 07 Mei 2013

KAJIAN STILISTIKA PUISI “BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH” KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK

 KAJIAN STILISTIKA PUISI
“BERJALAN DI BELAKANG JENAZAH”
KARYA SAPARDI DJOKO DAMONO
                                           DENGAN PENDEKATAN SEMIOTIK      

Disusun Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Stilistika
Pengampu: Dr. Ali Imron Al-Ma’ruf, M.Hum
UMS- SURAKARTA.GIF

Oleh:
SARASWATI KARTIKASARI
A310 100 241




PENDIDIKAN BAHASA SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2013


A.    PENDAHULUAN
Karya sastra merupakan wujud dari hasil pemikiran manusia. Karya sastra diciptakan untuk dinikmati dan diapresiasi. Dalam hal ini setiap penulis memiliki cara dalam mengemukakan gagasan dan gambarannya untuk menghasilkan efek-efek tertentu bagi pembacanya, Secara manyeluruh kajian stilistika berperan untuk membantu menganalisis dan memberikan gambaran secara lengkap bagaimana nilai sebuah karya sastra.
Karya sastra sebagai kajian dari stilistik yang menggunakan gaya bahasa sastra sebagai media untuk menemukan nilai estetisnya. Aminuddin (1997: 67) mengemukakan terdapat  jenis karya sastra yaitu puisi dan prosa fiksi. Dalam hal ini perbedaan karakteristik karya sastra mengakibatkan perbedaan dalam tahapan pemaknaan dan penafsiran ciri dan penggambarannya.
Pada lingkupnya  puisi diciptakan oleh seseorang dengan melukiskan dan mengekspresikan watak-watak yang penting si pengarang, bukan hanya menciptakan keindahan. Aminuddin (1997: 65) menyatakan dalam puisi misalnya membutuhkan efek-efek emotif yang mempengaruhi karya sastra. Memperoleh efek-efek tersebut dapat melalui kebahasaan, paduan bunyi, penggunaan tanda baca, cara penulisan dan lain sebagainya. Dengan kriteria tersebut membantu dalam menganalisis sebuah puisi. Berdasarkan kriteria tersebut dipilih puisi dengan judul “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono untuk dianalisis. Sapardi Djoko Darmono pula memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan sastra Indonesia secara keseluruhan.
Bahasa dalam karya sastra merupakan lambang yang mempunyai arti yang ditentukan oleh perjanjian atau konvensi dari masyarakat. Bahasa yang digunakan di dalam puisi cenderung menyimpang dari kaidah kebahasaan, bahkan menggunakan bahasa yang dianggap aneh atau khas. Penyimpangan penggunaan bahasa dalam puisi, menurut Riffaterre (dalam Supriyanto, 2009: 2) disebabkan oleh tiga hal yaitu displacing of meaning (pengganitan arti), dan creating of meaning (perusakan atau penyimpangan arti), dan creating of meaning (penciptaan arti). Dengan demikian keindahan puisi pada dasarnya membentuk suatu pesan dan gaya bahasa tersendiri memberikan wujud keindahan karya sastra.
Pendekatan semiotika ini akan menjelaskan tanda yang terdapat di dalam puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” menjadikan puisi tersebut memiliki makna yang utuh bagi seorang pembaca. Pendekatan Semiotika adalah teori tentang memahami ‘tanda’. Semiotik itu mempelajari sistem-sistem, aturan-aturan, dan konvensi-konvensi yang memungkinkan tanda-tanda tersebut mempunyai arti (Pradopo, 1995:119).
  Puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” merupakan puisi yang menarik untuk dikaji. Puisi ini merupakan salah satu karya Sapardi Djoko Darmono dalam kumpulan puisinya “Dukamu Abadi”. Saya mengkaji puisi ini karena puisi ini menimbulkan rasa penasaran mengenai apa makna yang sebenarnya terkandung dalam puisi ini dengan menggunakan teori semiotik.
Berdasarkan latar belakang masalah di atas, maka permasalahan yang akan dikaji dalam tulisan ini adalah: (1) Bagaimana style ‘gaya bahasa’ pada puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono?; (2) Bagaimana analisis puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono dengan pendekatan semiotik?. Adapun tujuan tulisan ini adalah untuk: (1) Mendiskripsikan style ‘gaya bahasa’ puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono.; (2) Menganalisis puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Darmono dengan pendekatan semiotik.
Manfaat teoritis kajian ini adalah (1) hasil kajian stilistika ini memberikan konstribusi bagi pengembangan linguistik terapan dan studi sastra sekaligus dalam analisis karya satra; (2) meletakkan dasar-dasar bagi penelitian stilistika karya sastra yang lain, baik puisi, fiksi, maupun teks drama/lakon. Adapun manfaat praktis kajian ini adalah: (1) memberikan wawasan bagi akademisi linguistic dan kritikus sastra dalam melakukan analisis karya sastra; (2) memberikan alternatif bahan ajar bagi para pengajar bahasa dan sastra baik di perguruan tinggi maupun sekolah dalam pembelajaran stilistika.

B.     Kajian Teoritis
1.      Style ‘Gaya Bahasa’
Gaya atau khususnya gaya bahasa dikenal dalam retorika dengan istilah style. Kata style diturunkan dari kata Latin stilus, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Gaya bahasa atau style menjadi masalah atau bagian dari diksi atau pilihan kata yang mempersoalkan cocok tidaknya pemakaian kata, frasa, atau klausa tertentu untuk menghadapi situasi tertentu.
Bila kita melihat gaya secara umum, kita dapat mengatakan bahwa gaya adalah cara mengungkapkan diri sendiri, entah melalui bahasa, tingkah laku, berpakaian, dan sebagainya. Dilihat dari segi bahasa, gaya bahasa adalah cara menggunakan bahasa. Gaya bahasa memungkinkan kita dapat menilai pribadi, watak, dan kemampuan seseorang yang mempergunakan bahasa itu. Akhirnya style atau gaya bahasa dapat dibatasi sebagai cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa) (Keraf, 2005: 113).

2.      Puisi
Puisi sebagai salah sebuah karya seni sastra dapat dikaji dari bermacam-macam aspeknya. Puisi dapat dikaji struktur dan unsur-unsurnya. Mengingat bahwa puisi itu adalah struktur yang tersusun dari bermacam-macam unsur dan sarana-sarana kepuitisan (Pradopo, 1987: 3). 
Puisi merupakan karya sastra yang dimana karya sastra itu bersifat imajinatif yang banyak menggunakan makna kias dan makna lambang (majas). Pengkajian puisi yang dilakukan untuk menafsirkan sebuah karya sastra nyatanya masih dipandang remeh oleh sebagian kecil manusiawi, padahal bila kita memikirkan kembali bahwa tujuan dilakukannya pengkajian puisi merupakan sebagai suatu upaya untuk mengenal lebih jauh tentang makna yang terkandung dalam puisi itu sendiri. Meskipun demikian, orang tidak dapat memahami puisi secara sepenuhnya tanpa mengetahui dan menyadari bahwa puisi itu karya estetis yang bermakna dan mempunyai arti.

3.      Teori Semiotik
Analisis semiotika merupakan struktur sistem tanda yang memahami makna tanda-tanda yang terjalin dalam sistem. Cara untuk menentukan unsur-unsur yang harus diperhatikan dalam sebuah analis semiotik, bentuk hubungan antara unsur satu dengan unsur lainnya, dan makna yang dihasilkan oleh bentuk-bentuk hubungan tersebut (Sunardi, 2002:46).
Menurut Umberto Eco dalam (Berger, 2010: 4-5), semiotika berkaitan dengan segala hal yang dapat dimaknai tanda-tanda. Suatu tanda adalah segala sesuatu yang dapat dilekati (dimaknai) sebagai penggantian yang signifikan untuk sesuatu lainnya. Segala sesuatu ini tidak terlalu mengharuskan perihal adanya atau mengaktualisasikan perihal dimana dan kapan suatu tanda memaknainya. Jadi, semiotika ada dalam semua kerangka (prinsip), semua disiplin studi, termasuk dapat pula digunakan untuk menipu bila segala sesuatu tidak dapat dipakai untuk menceritakan (mengatakan) segala sesuatu (semuanya).

C.    Metode Penelitian
Karya sastra merupakan sebuah struktur tanda yang bermakna. Dalam pengkajian ini, dilakukan pengkajian stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yang meliputi gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Setelah pengkajian stilistika dilanjutkan dengan pengungkapan makna stilistika puisi dengan memanfaatkan teori semiotik.
Objek penelitian ini adalah stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” karya Sapardi Djoko Damono yang akan dikaji dengan teori semiotik. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif, yang dilakukan dalam bentuk wacana yang terkandung dalam teks puisi “Berjalan di Belakang Jenazah”.

D.    Hasil dan Pembahasan
Pengkajian stilistika puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yang dibagi dalam empat aspek yakni gaya bunyi, gaya kata (diksi), gaya kalimat, dan citraan. Setelah itu akan dikaji dengan pendekatan semiotik. Lebih dahulu dipaparkan puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” berikut ini.

Berjalan di Belakang Jenazah
berjalan di belakang jenazah angin pun reda
jam mengerdip

tak terduga betapa lekas
siang menepi, melapangkan jalan dunia

di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala
di atas: matahari kita, matahari itu juga

jam mengambang di antaranya
tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya

1.      Gaya Bunyi
Dalam puisi, bunyi berperan penting karena bunyi menimbulkan efek dan kesan tertentu. Bunyi dapat menekankan arti kata, mengintensifkan makna kata dan kalimat, bahkan dapat mendukung penciptaan suasana tertentu dalam puitis. Gaya bunyi pada puisi itu dapat dikemukakan sebagai berikut.
Puisi itu secara keseluruhan didominasi oleh adaya bunyi vokal /a/. Misalnya pada bait 2 baris pertama: /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/, pada bait 2 baris kedua: /di atas: matahari kita, matahari itu juga/, pada bait 2 baris ketiga: /jam mengambang di antaranya/, dan pada bait 2 baris keempat: /tak terduga begitu kosong waktu menghampirinya/. Bunyi vokal /a/ yang mendominasi keseluruhan puisi itu mempunyai fungsi menimbulkan suasana sedih dan duka.

2.      Gaya Kata (Diksi)
Secara umum puisi juga sulit untuk dipahami, terdapat penafsiran tertentu. Dengan demikian penggunaan kata konotatif dalam puisi tersebut cukup menjadi perhatian. Penyair menggunakan kata-kata tersebut untuk mengungkapkan sesuatu. Sesuatu itulah yang dinamakan makna konotatif. Jadi, penggunaan kata konotatif dilakukan untuk menyatakan sesuatu secara tidak langsung. Penggunaan kata konotatif juga untuk menciptakan efek estetis.
Secara keseluruhan dalam puisi “Berjalan di Belakang jenazah” penyair memanfaatkan kata-kata konotatif yang memiliki arti kias. Bahasa kias tampak dominan dalam puisi itu terutama pemanfaatan majas personifikasi. Hal itu dapat terlihat pada bait 1 baris keempat /siang menepi, melapangkan jalan dunia/, pada bait 2 baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/, dan bait 2 baris keempat /tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya/.






3.      Gaya Kalimat
Kepadatan kalimat dan bentuk yang ekspresif sangat diperlukan dalam karya sastra khususnya puisi. Hal itu mengingat bahwa dalam puisi hanya inti gagasan atau pengalaman batin yang dikemukakan. Gaya kalimat yang terdapat dalam puisi itu menggunakan gaya kalimat implisit.
Kepadatan kalimat dengan gaya implisit terdapat pada bait 1  baris pertama /berjalan di belakang jenazah angin pun reda/. Pada baris pertama bait 1 terdapat kata yang diimplisitkan yakni kata (saat)/ berjalan di belakang jenazah angin pun reda/. Pada bait 1 baris keempat /siang menepi, melapangkan jalan dunia/  terdapat kata yang diimplisitkan yakni kata /siang (aku) menepi, melapangkan jalan dunia/.
Kepadatan kalimat dengan gaya implisit juga terdapat pada bait 2 baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/ kata yang diimplisitkan yakni kata /di samping (kuburan): pohon demi pohon (aku) menundukkan kepala/. Pada bait 2 baris kedua /di atas: matahari kita, matahari itu juga/ kata yang diimplisitkan yakni kata / di atas: matahari kita (aku dan kamu), matahari itu juga/.
Dari kajian gaya kalimat di atas dapat dikemukakan bahwa dalam puisi karya Sapardi Djoko Darmono tersebut terlihat kalimat-kalimat mengalami pemadatan dengan gaya implisit. Pemadatan kalimat dengan gaya implisit itu tidak mengganggu hubungan antar kalimat melainkan justru menambah efektivitas kalimat dan menimbulkan efek makna khusus sekaligus mampu mencapai efek estetis.

4.      Citraan
Citraan atau imaji dalam karya sastra berperan penting untuk menimbulkan pembayangan imajinatif, membentuk gambaran mental, dan dapat membangkitkan pengalaman tertentu pada pembaca. Dalam puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” penyair memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca melalui ungkapan yang tidak langsung. Di sinilah citraan dalam karya sastra berfungsi menghidupkan imaji-imaji yang ada dalam pikiran pembaca, yang dipaparkan sebagai berikut.
a)      Imaji Lihatan
imaji yang secara kasat mata dapat dapat dilihat oleh indrawi mata manusia. Pada puisi ini imaji lihatan terdapat pada bait 1 baris pertama /berjalan di belakang jenazah angin pun reda/, pada bait 1 baris kedua /jam mengerdip/, dan pada bait 2 baris pertama /di samping: pohon demi pohon menundukkan kepala/.
b)      Imaji Cecapan
Imaji yang diperoleh dari alat ucap manusia. Pada puisi ini imaji cecapan terdapat pada bait 1 baris ketiga /tak terduga betapa lekas/.
c)      Imaji rabaan
secara abtrak dapat dirasakan oleh tubuh manusia. Pada puisi ini imaji rabaan terdapat pada bait 2 baris ketiga /jam mengambang di antaranya/.
Jadi, kesimpulannya dari  puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” adalah memanfaatkan citraan untuk menghidupkan imaji pembaca dalam merasakan apa yang dirasakan oleh penyair. Citraan membantu pembaca dalam menghayati makna puisi. Puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” memanfaatkan citraan penglihatan, cecapan, dan citraan  rabaan.

E.     Kajian Makna Stilistika Puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” dengan Pendekatan Semiotik
Makna karya sastra merupakan formulasi gagasan-gagasan yang ingin disampaikan oleh pengarang kepada pembaca. Mengacu teori semiotik, karya sastra merupakan system konunikasi tanda. Oleh karena itu, apapun yang tercantum dalam karya satra merupakan tanda yang mengandung makna yang implisit di balik ekspresi bahasa eksplisit (Al-Ma’ruf, 2012: 161).
Pada analisis pendekatan semiotik pada puisi Sapardi Djoko Damono ditemukan beberapa simbol, yaitu:
a.       Pada bait pertama dalam puisi ini, yaitu /tak terduga betapa lekas/, /siang menepi, melapangkan jalan dunia/.  Disini dimaksudkan bahwa waktu hidup manusia di dunia hanyalah sementara dan tidak kekal.
b.      Pada bait kedua /jam mengambang di antaranya/, /tak terduga begitu kosong waktu menghirupnya/. /jam mengambang di antaranya/ disini diibaratkan sebagai umur manusia yang terus berjalan tidak dapat terduga kapan habisnya (mati).


F.     Simpulan
Stilistika adalah ilmu gaya bahasa yang digunakan untuk mengkaji suatu makna dalam sebuah karya sastra, dengan adanya stilistika kita bisa lebih memahami makna yang sesungguhnya yang terdapat dalam sebuah puisi secara mendetail, mulai dari struktur bahasa, penggunaan kata hingga mengamati antar hubungan pilihan kata.  Adapun ruang lingkup stilistika, yaitu aspek-aspek bahasa yang ditelaah dalam stilistika meliputi intonasi, bunyi, kata, dan kalimat sehingga lahirlah gaya intonasi, gaya kata, gaya bunyi, dan gaya kalimat.
Dari analisis yang dilakukan dalam puisi Sapardi Djoko Damono yang berjudul “Berjalan di Belakang Jenazah ”, didapatkan sebuah pemilihan potensi bahasa teks sastra, yang terdapat adanya tanda atau lambang yang digunakan dalam bahasa sehari-hari. Amanat yang tersampaikan dalam puisi “Berjalan di Belakang Jenazah” yaitu dalam hidup ini kematian tidak akan dapat kita rasakan waktunya. Begitu cepat dan tanpa kita duga.



















DAFTAR PUSTAKA

Al-Ma’ruf, Ali Imron. 2012. Stilistika: Teori, Metode, dan Aplikasi Pengkajian Estetika Bahasa. Surakarta: Cakra Books Solo
Aminnuddin. 1997. Stilistika, Pengantar Memahami Karya Sastra. Semarang: CV. IKIP Semarang Press.
Berger, Arthur Asa. 2010. Pengantar Semiotika: Tanda-tanda dalam Kebudayaan Kontemporer. Yogyakarta: Tiara Wacana.
Damono, Sapardi Djoko. 2011. “Kumpulan Puisi Dukamu Abadi” (online), (http://vidictians.blogspot.com/p/sapardi-djoko-damono_damono_3500.html, diakses tanggal 11 April 2013).
Keraf, Gorys. 2005. Diksi dan Gaya Bahasa. Jakarta: PT. Gramedia
Pradopo, Rachmad Djoko. 1995. Beberapa Teori Sastra, Metode Kritik, dan Penerapannya. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
__________. 1987. Pengkajian Puisi. Yogyakarta: UGM Press.
Sunardi. 2002. Semiotika Negativa. Yogyakarta: Kanal.
Supriyanto, Teguh. 2009. Stilistika dalam Prosa. Jakarta: Pusat Bahasa Departemen Pendidikan Nasional.






Tidak ada komentar:

Posting Komentar