Rabu, 15 Mei 2013

Mereka Bilang Saya Monyet




LINTAH

            Kisah hidup seorang wanita penulis muda yang bernama Adjeng. Sesosok pribadi yang tertutup dengan semua orang tentang kehidupan di masa lalunya maupun sekarang. Adjeng memiliki sifat yang pendiam dan patuh terhadap ibunya akan tetapi sifatnya itu bisa berubah ketika Adjeng bersama dua sahabatnya yaitu Andien dan Venny, Adjeng menjadi sesosok wanita yang agresif dan periang. Dari kecil Adjeng hidup bersama ibunya sedangkan ayahnya meninggalkan Adjeng demi wanita lain. Sejak kejadian perceraian kedua orangtua Adjeng ibunya melihara seekor lintah.
Ibu memelihara seekor lintah
Sebuah lintah itu dibuatkan kandang
Yang mirip seperti rumah boneka yang berlantai dua
Dan lengkap kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, kamar mandi
Dan ditempatkan tepat disebelah  kamar  ibu
Saya selalu merengek kepada ibu agar dia mengganti lintah dengan hewan peliharaan lain
Namun ibu bersih keras mempertahankan lintah sebagai hewan peliharaan tunggal dirumah kami

            Adjeng selalu teringat dengan masa kecilnya, yang dia disuruh ibunya memakan sayuran yang sudah dia muntahkan di kloset karena dia tidak suka sayuran dan berbohong kepada ibunya lalu ibunya berkata “Bohong itu bukannya takut melainkan berani, berani melawan resiko terhadap kebohongan yang diperbuat”. Ketika di sekolah Adjeng pun tidak punya teman, dia sesosok wanita pendiam dan suka menggambar, saat Adjeng duduk-duduk di halaman sekolah setelah selesai menggambar sesosok ibunya yang anggun gambar hasil karya Adjeng selalu direbut sama teman laki-lakinya dengan cara memukul temannya dia merebut lukisan itu. Dan ketika Adjeng dilecehkan di bagian pundak dan pahanya sampai membekas merah oleh lintah peliharaan ibunya pun Adjeng cuma diam dan tak berkutik sama sekali, sehingga saat Adjeng sedang mandi lintah itu mencoba untuk memperkosanya, namun belum sampai lintah itu memperkosa Adjeng ibunya sudah datang dan langsung menbenturkan kepala lintah itu ke bak mandi.
            Adjeng sering berpesta-pesta di diskotik bersama dua sahabatnya, suatu malam di diskotik ada sesosok laki-laki yang tampan duduk di sebrang meja Adjeng dan dua sahabatnya, Adjeng dan Andien pun bermain koin yang dilemparkan siapa yang menang dialah yang merayu laki-laki itu, pilihan Adjeng yang menang dan Adjeng pun merayu laki-laki itu dan dengan mudahnya laki-laki itu di rayu mereka pun bertukar-tukaran nomor telepon dan berciuman.
            Ketika Adjeng asik menulis di laptopnya Andien datang dengan seorang lelaki ternyata lelaki itu lelaki yang di jumpainya di diskotik Adjeng mempersihlakan mereka masuk lalu mereka berdua asik bercumbu dan Adjeng melanjutkan aktifitasnya di kamar dengan sebuah laptopnya tiba-tiba Adjeng teringat akan perbuatan ibunya bersama lintah peliharaannya.
Pada suatu hari keingintahuan saya mendesak kuat
Saya mengintip dari sela-sela tirai yang sedikit terbuka ke dalam kamar ibu
Dan saya kaget melihat seekor ular yang merah menyala
Lidahnya menjulur keluar dan liurnya menetes ke bawah
Saya jijik melihatnya
Namun ibu dengan rakusnya menelan habis liur besar itu
Tanpa menyisakan satu tetespun
Yang lebih mencenangkan lagi
Ular itu lalu berangsur-angsur mengecil
Saya tidak bisa membayangkan sebelumnya
Bila ular itu tidak lain adalah LINTAH

            Selesai sudah tulisan karya Adjeng, Adjeng pun minta pendapat kepada Asmoro yang penulis senior akan tetapi malah mereka berdebat karena menurut Asmoro tulisan Adjeng itu berlebihan terlalu menghayal dan hiperbola akan tetapi Adjeng membantah jika tulisannya itu merupakan fiksi dan imajinasi apalagi tulisannya itu realita kehidupannya sendiri, hingga Asmoro berkata “ kalau kamu bicara soal realitas kamu ngomongin realitas kamu tidak bisa mangkir dari realitas karena kamu berhadapan dengan pembaca mereka butuh penyesuaian “.
            Ibunya Adjeng beberapa kali datang menjenguk Adjeng yang tinggal di apartemen setiap ibunya ke apartemen Adjeng selalu berusaha cepat-cepat menyembunyikan rokok serta minuman keras agar dia tidak mendapatkan marahan dari ibunya. Di kemudian hari saat Adjeng di apartemen dia didatangi oleh Asmoro. Saat itu Asmoro terlihat kesal dan murung, karena dia cemburu terhadap Adjeng yang bersetubuh kepada pria lain. Lalu Adjengpun marah karena dia melakukan itu semua untuk membayar kebutuhannya sehari-hari serta membayar apartemen dan mereka bertengkar hebat sampai-sampai wajah Adjeng dibekam bantal oleh Asmoro sampai pingsan.
            Tersadar dari itu  semua, Adjeng bernafas lega saat ia berdiri melihat ke jendela ruang kamarnya seolah tanpa sadar bayangan masa kecilnya teringat kembali, sekilas senyum manis dari bibir Adjeng membuat hati Adjeng merasa tenang serta nyaman didalam hidupnya, kemudian Adjeng melangkah perlahan menuju meja laptopnya dan melanjutkan aktifitasnya untuk menulis suatu cerita.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar