LINTAH
Kisah
hidup seorang wanita penulis muda yang bernama Adjeng. Sesosok pribadi yang
tertutup dengan semua orang tentang kehidupan di masa lalunya maupun sekarang. Adjeng
memiliki sifat yang pendiam dan patuh terhadap ibunya akan tetapi sifatnya itu
bisa berubah ketika Adjeng bersama dua sahabatnya yaitu Andien dan Venny,
Adjeng menjadi sesosok wanita yang agresif dan periang. Dari kecil Adjeng hidup
bersama ibunya sedangkan ayahnya meninggalkan Adjeng demi wanita lain. Sejak
kejadian perceraian kedua orangtua Adjeng ibunya melihara seekor lintah.
Ibu
memelihara seekor lintah
Sebuah
lintah itu dibuatkan kandang
Yang mirip
seperti rumah boneka yang berlantai dua
Dan lengkap
kamar tidur, ruang makan, ruang tamu, kamar mandi
Dan
ditempatkan tepat disebelah kamar ibu
Saya selalu
merengek kepada ibu agar dia mengganti lintah dengan hewan peliharaan lain
Namun ibu
bersih keras mempertahankan lintah sebagai hewan peliharaan tunggal dirumah
kami
Adjeng
selalu teringat dengan masa kecilnya, yang dia disuruh ibunya memakan sayuran
yang sudah dia muntahkan di kloset karena dia tidak suka sayuran dan berbohong
kepada ibunya lalu ibunya berkata “Bohong itu bukannya takut melainkan berani,
berani melawan resiko terhadap kebohongan yang diperbuat”. Ketika di sekolah
Adjeng pun tidak punya teman, dia sesosok wanita pendiam dan suka menggambar,
saat Adjeng duduk-duduk di halaman sekolah setelah selesai menggambar sesosok
ibunya yang anggun gambar hasil karya Adjeng selalu direbut sama teman
laki-lakinya dengan cara memukul temannya dia merebut lukisan itu. Dan ketika
Adjeng dilecehkan di bagian pundak dan pahanya sampai membekas merah oleh
lintah peliharaan ibunya pun Adjeng cuma diam dan tak berkutik sama sekali,
sehingga saat Adjeng sedang mandi lintah itu mencoba untuk
memperkosanya, namun belum sampai lintah itu memperkosa Adjeng ibunya sudah
datang dan langsung menbenturkan kepala lintah itu ke bak mandi.
Adjeng sering berpesta-pesta di
diskotik bersama dua sahabatnya, suatu malam di diskotik ada sesosok laki-laki
yang tampan duduk di sebrang meja Adjeng dan dua sahabatnya, Adjeng dan Andien
pun bermain koin yang dilemparkan siapa yang menang dialah yang merayu
laki-laki itu, pilihan Adjeng yang menang dan Adjeng pun merayu laki-laki itu
dan dengan mudahnya laki-laki itu di rayu mereka pun bertukar-tukaran nomor
telepon dan berciuman.
Ketika Adjeng asik menulis di
laptopnya Andien datang dengan seorang lelaki ternyata lelaki itu lelaki yang
di jumpainya di diskotik Adjeng mempersihlakan mereka masuk lalu mereka berdua
asik bercumbu dan Adjeng melanjutkan aktifitasnya di kamar dengan sebuah
laptopnya tiba-tiba Adjeng teringat akan perbuatan ibunya bersama lintah
peliharaannya.
Pada suatu
hari keingintahuan saya mendesak kuat
Saya
mengintip dari sela-sela tirai yang sedikit terbuka ke dalam kamar ibu
Dan saya
kaget melihat seekor ular yang merah menyala
Lidahnya
menjulur keluar dan liurnya menetes ke bawah
Saya jijik
melihatnya
Namun ibu
dengan rakusnya menelan habis liur besar itu
Tanpa
menyisakan satu tetespun
Yang lebih
mencenangkan lagi
Ular itu
lalu berangsur-angsur mengecil
Saya tidak
bisa membayangkan sebelumnya
Bila ular
itu tidak lain adalah LINTAH
Selesai sudah tulisan karya Adjeng,
Adjeng pun minta pendapat kepada Asmoro yang penulis senior akan tetapi malah
mereka berdebat karena menurut Asmoro tulisan Adjeng itu berlebihan terlalu
menghayal dan hiperbola akan tetapi Adjeng membantah jika tulisannya itu
merupakan fiksi dan imajinasi apalagi tulisannya itu realita kehidupannya
sendiri, hingga Asmoro berkata “ kalau kamu bicara soal realitas kamu ngomongin
realitas kamu tidak bisa mangkir dari realitas karena kamu berhadapan dengan
pembaca mereka butuh penyesuaian “.
Ibunya Adjeng beberapa kali datang
menjenguk Adjeng yang tinggal di apartemen setiap ibunya ke apartemen Adjeng
selalu berusaha cepat-cepat menyembunyikan rokok serta minuman keras agar dia
tidak mendapatkan marahan dari ibunya. Di kemudian hari saat Adjeng di
apartemen dia didatangi oleh Asmoro. Saat itu Asmoro terlihat kesal dan murung,
karena dia cemburu terhadap Adjeng yang bersetubuh kepada pria lain. Lalu
Adjengpun marah karena dia melakukan itu semua untuk membayar kebutuhannya
sehari-hari serta membayar apartemen dan mereka bertengkar hebat sampai-sampai
wajah Adjeng dibekam bantal oleh Asmoro sampai pingsan.
Tersadar dari itu semua, Adjeng bernafas lega saat ia berdiri
melihat ke jendela ruang kamarnya seolah tanpa sadar bayangan masa kecilnya teringat
kembali, sekilas senyum manis dari bibir Adjeng membuat hati Adjeng merasa tenang
serta nyaman didalam hidupnya, kemudian Adjeng melangkah perlahan menuju meja
laptopnya dan melanjutkan aktifitasnya untuk menulis suatu cerita.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar