ASAL MULA TATA SURYA
Disusun
Guna Memenuhi Tugas Mata Kuliah Ilmu Alamiah Dasar
Dosen
Pengampu : Muh Waskito, S.Pd

Disusun
Oleh :
Saraswati
Kartikasari
A.310100241
PENDIDIKAN BAHASA
SASTRA INDONESIA DAN DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN
ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS
MUHAMMADIYAH SURAKARTA
2011
Latar Belakang
Pemahaman masyarakat umum tentang asal mula tata surya
masih sangat rendah, salah satu penyebabnya adalah sangat minimnya sumber
informasi bagi mereka. Dengan alasan tersebut, mengapa penulis memilih makalah
dengan judul Asal Mula Tata Surya. Pada makalah ini, penulis membatasinya
dengan beberapa teori yaitu teori nebulae dan teori big bang.
Untuk memudahkan pemahaman tentang
teori-teori tersebut penulis perjelas dengan gambar-gambar.
Penulis berharap mudah-mudahan
dengan makalah ini dapat menambah pengetahuan mengenai asal mula tata surya
khususnya bagi penulis dan bagi masyarakat pada umumnya.
Pembahasan
A.
Teori
Nebulae (Kant dan Laplace)
Hipotesis Nebula. Hipotesis
nebula pertama kali dikemukakan oleh Emanuel Swedenborg (1688-1772) tahun 1734
dan disempurnakan oleh Immanuel Kant (1724-1804) pada tahun 1775.
Immanuel Kan
|
Hipotesis serupa juga dikembangkan oleh Pierre Marquis de Laplace secara independen pada tahun 1796. Hipotesis ini, yang lebih dikenal dengan Hipotesis Nebula Kant-Laplace, menyebutkan bahwa pada tahap awal, Tata Surya masih berupa kabut raksasa. Kabut ini terbentuk dari debu, es, dan gas yang disebut nebula, dan unsur gas yang sebagian besar hidrogen. Gaya gravitasi yang dimilikinya menyebabkan kabut itumenyusut dan berputar dengan arah tertentu, suhu kabut memanas, dan akhirnya menjadi bintang raksasa (matahari). Matahari raksasa terus menyusut dan berputar semakin cepat, dan cincin-cincin gas dan es terlontar ke sekeliling matahari. Akibat gaya gravitasi, gas-gas tersebut memadat seiring dengan penurunan suhunya dan membentuk planet dalam dan planet luar.
Pierre Marquis de Laplace
|
Laplace berpendapat bahwa orbit berbentuk hampir
melingkar dari planet-planet merupakan konsekuensi dari pembentukan mereka.
Teori Kabut (Nebula) menceritakan kejadian tersebut dalam 3 (tiga ) tahap
:
1.
Matahari dan planet-planet
lainnya masih berbentuk gas, kabut yang begitu pekat dan besar
2.
Kabut tersebut berputar dan berpilin
dengan kuat, dimana pemadatan terjadi di pusat lingkaran yang kemudian
membentuk matahari. Pada saat yang bersamaan materi lainpun terbentuk menjadi
massa yang lebih kecil dari matahari yang disebut sebagai planet, bergerak
mengelilingi matahari.
3.
Materi-materi tersebut tumbuh makin
besar dan terus melakukan gerakan secara teratur mengelilingi matahari dalam
satu orbit yang tetap dan membentuk Susunan Keluarga Matahari.
Berbagai Modifikasi Hipotesis Nebula. Astronom
Jerman C. von Weizsaeckar memperkenalkan hipotesis nebulanya pada tahun
1940-an. Dia berpendapat bahwa suatu lapisan materi bersifat gas pernah muncul
dan keluar sampai jauh sekali dari garis khatulistiwa matahari di jaman purba.
Sebagian besar lapisan ini terdiri dari unsur ringan
hidrogen dan helium. Akhirnya, tekanan panas dan
radiasi matahari menghilangkan sebagian besar hidrogen dan helium serta
meninggalkan unsur-unsur yang lebih berat. Unsur-unsur yang lebih berat itu
secara bertahap berkumpul dalam suatu deretan konsentris yang berbentuk seperti
ginjal. Deretan massa ini menarik bahan-bahan lain yang terdapat di ruang
angkasa dan berkembang menjadi planet.

Problem terbesar dari teori Laplace adalah distribusi
momentum sudut. Pada saat nebula terbentuk, momentum sudut akan ditransfer dari
bagian dalam materi yang terkondensasi ke bagian piringan yang terbentuk di
bidang ekuatorial. Sejumlah kemungkinan mekanisme juga diberikan untuk
memecahkan bagaimana transfer momentum sudut itu terjadi :
1.
Turbulensi (perputaran) viskositas
didalam piringan
2.
Efek gravitasional yang mengacu pada
pembentukan lengan spiral di piringan
3.
Interaksi antara materi terionisasi
yang meninggalkan area pusat dan bidang magnetik yang terbentuk didalamnya.
4.
Transport momentum sudut oleh
gelombang yang terjadi di dalam piringan.
Dalam teori Nebula Matahari, titik awal pembentukan
planet terjadi saat sebagian besar piringan terdiri dari komposisi gas dengan 1
– 2% materi padat dan temperatur yang semakin dingin dengan pertambahan jarak.
Kedua teori itu mempunyai persamaan
tentang material asalnya, yaitu kabut. Itulah sebabnya, keduanya dijadikan satu
nama yaitu Teori Nebulae atau Teori Kabut (Nebular Hypotheses), bahkan lebih
dikenal Teori Kant dan Laplace.
Hal-hal penting dan permasalahan yang dihadapi Teori
Nebula Matahari, antara lain :
1.
Teori ini merupakan teori monistik
yang secara simultan berurusan dengan pembagian massa dan momentum sudut.
2.
Beberapa mekanisme atau kombinasi
mekanisme harus ditunjukkan untuk dapat mentransfer momentum sudut yang cukup
dari Matahari yang berkondensasi ke piringan.
3.
Harus juga ditunjukkan kalau planet
akan terbentuk pada skala waktu yang sesuai dengan masa hidup piringan yang
sudah diamati ( < 107 tahun)
4.
Kelebihan materi piringan yang
tersisa setelah pembentukan planet harus dibuang.
5.
Model ini hanya memprediksikan
sistem planar, maka kemiringan sumbu putaran Tata Surya harus dapat dijelaskan.
B. Teori Big Bang
Big Bang merupakan petunjuk nyata bahwa alam semesta
telah 'diciptakan dari ketiadaan', dengan kata lain ia diciptakan oleh Allah.
Karena alasan ini, para astronom yang meyakini paham materialis senantiasa
menolak Big Bang dan mempertahankan gagasan alam semesta tak hingga. Alasan
penolakan ini terungkap dalam perkataan Arthur Eddington, salah seorang
fisikawan materialis terkenal yang mengatakan: "Secara filosofis, gagasan
tentang permulaan tiba-tiba dari tatanan Alam yang ada saat ini sungguh
menjijikkan bagi saya".Seorang materialis lain, astronom terkemuka asal
Inggris,
"Prof Stephen Hawking, 67
(Penggagas Teori Big bang)"
Sir Fred Hoyle adalah termasuk yang paling merasa
terganggu oleh teori Big Bang. Di pertengahan abad 20, Hoyle mengemukakan suatu
teori yang disebut steady-state yang mirip dengan teori 'alam semesta tetap' di
abad 19. Teori steady-state menyatakan bahwa alam semesta berukuran tak hingga
dan kekal sepanjang masa. Dengan tujuan mempertahankan paham materialis, teori
ini sama sekali berseberangan dengan teori Big Bang, yang mengatakan bahwa alam
semesta memiliki permulaan. Mereka yang mempertahankan teori steady-state telah
lama menentang teori Big Bang. Namun, ilmu pengetahuan justru meruntuhkan
pandangan mereka.
Pada tahun 1948, Gerge Gamov muncul dengan gagasan
lain tentang Big Bang. Ia mengatakan bahwa setelah pembentukan alam semesta
melalui ledakan raksasa, sisa radiasi yang ditinggalkan oleh ledakan ini
haruslah ada di alam. Selain itu, radiasi ini haruslah tersebar merata di
segenap penjuru alam semesta. Bukti yang 'seharusnya ada' ini pada akhirnya
diketemukan. Pada tahun 1965, dua peneliti bernama Arno Penziaz dan Robert
Wilson menemukan gelombang ini tanpa sengaja. Radiasi ini, yang disebut
'radiasi latar kosmis', tidak terlihat memancar dari satu sumber tertentu, akan
tetapi meliputi keseluruhan ruang angkasa. Demikianlah, diketahui bahwa radiasi
ini adalah sisa radiasi peninggalan dari tahapan awal peristiwa Big Bang.
Penzias dan Wilson dianugerahi hadiah Nobel untuk penemuan mereka.
Pada tahun 1989, NASA mengirimkan satelit Cosmic
Background Explorer. COBE ke ruang angkasa untuk melakukan penelitian tentang
radiasi latar kosmis. Hanya perlu 8 menit bagi COBE untuk membuktikan
perhitungan Penziaz dan Wilson. COBE telah menemukan sisa ledakan raksasa yang
telah terjadi di awal pembentukan alam semesta. Dinyatakan sebagai penemuan
astronomi terbesar sepanjang masa, penemuan ini dengan jelas membuktikan teori
Big Bang.
"Skema Peristiwa Big bang"
Bukti penting lain bagi Big Bang adalah jumlah
hidrogen dan helium di ruang angkasa. Dalam berbagai penelitian, diketahui
bahwa konsentrasi hidrogen-helium di alam semesta bersesuaian dengan
perhitungan teoritis konsentrasi hidrogen-helium sisa peninggalan peristiwa Big
Bang. Jika alam semesta tak memiliki permulaan dan jika ia telah ada sejak dulu
kala, maka unsur hidrogen ini seharusnya telah habis sama sekali dan berubah
menjadi helium.
Segala bukti meyakinkan ini menyebabkan teori Big Bang
diterima oleh masyarakat ilmiah. Model Big Bang adalah titik terakhir yang
dicapai ilmu pengetahuan tentang asal muasal alam semesta. Begitulah, alam
semesta ini telah diciptakan oleh Allah Yang Maha Perkasa dengan sempurna tanpa
cacat:
Yang telah menciptakan tujuh langit
berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha
Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihtatlah berulang-ulang, adakah kamu
lihat sesuatu yang tidak seimbang. (QS. Al-Mulk, 67:3)
Tahapan terjadinya Dentuman Besar :
1) Setelah terjadi dentuman besar,
alam semesta mengembang dengan cepat hingga kira-kira 2000 kali matahari.
2) Sebelum berusia satu detik, semua
partikel hadir dalam keseimbangan. Satu detik setelah dentuman, alam semesta
membentuk partikel-partikel dasar, yaitu elektron, proton, neutron, dan
neutrino pada suhu 10 miliar kelvin.
3) Kira-kira 500 ribu tahun setelah
terjadi ledakan, lambat laun alam semesta menjadi dingin hingga mencapai suhu
3000K. Partikel-partikel dasar membentuk benih kehidupan alam semesta.
4) Gas hidrogen dan helium membentuk
kelompok-kelompok gas rapat yang tak teratur. Dalam kelompok-kelompok tersebut
mulai terbentuk protogalaksi.
5) Antar satu dan dua miliar tahun
setelah terjadinya dentuman besar, protogalaksi-protogalaksi melahirkan
bintang-bintang yang lambat laun berkembang menjadi raksasa merah dan supernova
yang merupakan bahan baku kelahiran bintang-bintang baru dalam galaksi.
6) Satu di antara miliaran galaksi yang
terbentuk adalah galaksi Bimasakti. Di dalam galaksi ini terdapat tata surya
kita, dengan matahari adalah bintang yang terdekat dengan bumi.
Dari situlah terbentuknya Alam Semesta.
Berikut adalah
Illustrasi dari kejadian Big Bang :
KESIMPULAN
1.
Menurut teori nebulae,
tata surya terbentuk dari kabut panas yang berpilin dan berputar sehingga
terjadi matahari dan planet-planet serta satelitnya.
2.
Menurut teori big bang,
terjadi dari ledakan yang sangat dahsyat dari dentuman besar.
DAFTAR
PUSTAKA
Tanudijaja,
Moh Ma’mur. 1994. Ilmu Pengetahuan Bumi dan Antariksa. Jakarta: Perum Balai Pustaka.
Malasan,
Hakim L dan Moh Ma’mur Tanudijaja. 1999. Jagad
Raya. Jakarta: PT Tiga Serangkai Pustaka Mandiri.










MGM Grand Casino Resort Announces New Sports Betting
BalasHapusMGM Grand Casino Resort announced it 남원 출장마사지 will 전라남도 출장샵 open 인천광역 출장안마 sports 김천 출장샵 betting on March 3, with 사천 출장샵 BetMGM joining online sports betting company GVC Holdings